
![]() |
Ustaz Dr. K.H. Muharrir Asy’ary, Lc, M.Ag |
Etika utama, makan sahur, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Banyak hadis Nabi yang menegaskan keutamaan sahur, di antaranya: "Makan sahurlah kalian, karena di dalam sahur terdapat keberkahan." (HR. Bukhari & Muslim).
Sahur bukan hanya sekadar mengisi perut, tetapi juga merupakan ibadah yang mendatangkan keberkahan. Keberkahan sahur bisa berupa: memberi kekuatan fisik untuk berpuasa, membantu menjaga niat agar tetap ikhlas, serta menambah pahala, karena merupakan sunnah Nabi.
Dalam hadis lain, Rasulullah saw bersabda: "Umatku akan selalu dalam kebaikan selama mereka mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka." (HR. Ahmad).
Waktu terbaik sahur mendekati waktu Subuh, kira-kira seperempat jam sebelum azan, atau sekitar 50 ayat bacaan Al-Qur’an sebelum fajar.
Dalam kondisi seseorang masih makan saat azan berkumandang, Rasulullah saw memberikan keringanan untuk menyelesaikan makannya dengan segera, tanpa memperlama waktu.
Di banyak tempat, biasanya beduk atau sirene berbunyi sekitar 10 menit sebelum Subuh sebagai tanda akhir waktu sahur, sehingga dianjurkan segera menyelesaikan makan sebelum waktu Subuh benar-benar masuk.
Menjaga Adab Saat Berpuasa
Puasa tidak hanya berarti menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga diri dari hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menghapus pahala puasa. "Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Bukhari).
Pertama, menjaga pandangan. Hindari melihat hal-hal yang dilarang, seperti gambar atau tontonan yang tidak pantas, karena dapat mengurangi kesucian ibadah puasa.
Kedua, menjaga pendengaran. Hindari mendengar ghibah (gosip), musik yang tidak bermanfaat, atau pembicaraan sia-sia. Allah berfirman: "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban." (QS. Al-Isra’: 36).
Ketiga, menjaga lisan. Hindari berkata kasar, dusta, dan menggunjing (ghibah), sebagaimana Rasulullah saw bersabda: "Ghibah itu lebih berat daripada zina. Karena orang yang berzina bisa bertaubat, sedangkan ghibah tidak akan diampuni kecuali dimaafkan oleh orang yang digunjing." (HR. Ahmad).
Memperbanyak Tilawah
Salah satu amalan utama di bulan Ramadhan membaca dan memahami Al-Qur’an. Disebutkan, Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah SAW setiap Ramadhan untuk bertadarus.
Untuk memudahkan khatam dalam 30 hari, bisa mengikuti metode berikut: setelah setiap shalat fardhu dua lembar (empat halaman) dan sehari satu juz, khatam dalam 30 hari.
Dengan metode ini, seorang muslim dapat mengoptimalkan Ramadhan dengan tadarrus Al-Qur’an dan memperoleh pahala yang besar.
Etika Berbuka Puasa
Rasulullah saw menganjurkan menyegerakan berbuka: "Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka." (HR. Bukhari & Muslim).
Berbuka yang disunnahkan dengan kurma (jika ada), seteguk air jika tidak ada kurma, dan shalat Maghrib terlebih dahulu sebelum makan besar.
"Jika salah seorang di antara kalian berbuka, maka hendaklah ia berbuka dengan kurma, karena itu adalah berkah. Jika tidak ada, maka dengan air, karena ia adalah suci." (HR. Tirmidzi).
Berdoa Saat Berbuka Puasa
Doa berbuka puasa yang diajarkan oleh Rasulullah saw: Allahumma laka sumtu, wa bika aamantu, wa ‘ala rizqika afthartu, birahmatika ya arhamarrahimin. Artinya: "Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka. Dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang."
Rasulullah saw membangunkan keluarganya di sepuluh malam terakhir untuk meningkatkan ibadah. Salah satu sunnahnya adalah i’tikaf di masjid. "Rasulullah SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat." (HR. Bukhari & Muslim).
Amalan yang dianjurkan dalam i’tikaf, yaitu shalat sunnah (tahajud, dhuha, witir), membaca Al-Qur’an dengan tartil, dan berzikir dan beristighfar sebanyak-banyaknya.
Kesimpulan
Etika pelaksanaan Ramadhan mencakup: mengamalkan sunnah sahur dan berbuka, menjaga lisan, pandangan, dan pendengaran, serta memperbanyak membaca Al-Qur’an dan ibadah malam. Etika lainnya memanfaatkan 10 malam terakhir dengan i’tikaf.
Semoga Allah SWT memberi kemudahan dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dan menjadikannya penuh berkah.
(Dirangkum oleh Sayed Muhammad Husen dan Darmawan Abidin dari Ceramah Shubuh di Masjid Raya Baiturrahman, Sabtu, 22 Februari 2025)