
![]() |
Prof. Dr. Azhari Akmal Tarigan, M.A Wakil Rektor I UIN Sumatera Utara |
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang memahami ekonomi sebatas pengelolaan keuangan dan harta benda. Dalam Islam, ekonomi memiliki dimensi yang lebih luas, tidak hanya mencakup aspek material, tetapi juga aspek spiritual dan sosial. Inilah yang disebut sebagai Meta Ekonomi Islam, yaitu konsep ekonomi yang melampaui sekadar urusan duniawi, dengan memasukkan nilai-nilai ketauhidan, keberkahan, dan keadilan sosial.
Makna Meta dalam Konteks Ekonomi Islam
Kata meta berasal dari bahasa Yunani yang berarti melampaui atau lebih tinggi. Dalam Meta Ekonomi Islam, pendekatan terhadap ekonomi bukan sekadar soal menghasilkan dan mengelola kekayaan, tetapi juga bagaimana harta digunakan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.
Meta Ekonomi Islam mengajarkan, bahwa ekonomi bukan hanya tentang angka-angka, tetapi juga tentang niat, tujuan, dan dampaknya bagi masyarakat. Ini yang membedakan ekonomi Islam dari ekonomi konvensional yang lebih menekankan keuntungan dan akumulasi kekayaan.
Tiga aspek utama Meta Ekonomi Islam: pertama, mindset dalam memahami harta. Kedua, esadaran bahwa harta adalah titipan Allah. Ketiga, pemahaman bahwa harta bukan tujuan akhir.
Mindset tentang Harta, Rezeki, dan Zakat
Mindset atau cara berpikir terhadap harta sangat berpengaruh terhadap bagaimana seseorang mengelola dan membelanjakannya.
Pertama, persepsi yang salah tentang harta. Banyak orang menganggap bahwa harta yang sesungguhnya adalah harta yang dimiliki secara fisik seperti rumah, tanah, dan tabungan di bank. Padahal, dalam Islam harta yang sesungguhnya adalah harta yang telah ditunaikan zakat, infak, dan sedekah. Harta yang kita simpan hanya bersifat sementara dan bisa berpindah tangan kapan saja.
Contohnya, menurut data Kementerian Agama, potensi zakat di Indonesia mencapai Rp750 triliun per tahun, tetapi yang terkumpul baru sekitar Rp35 triliun. Ini menunjukkan bahwa masih banyak orang yang ragu-ragu atau enggan menunaikan zakat karena merasa bahwa hartanya akan berkurang.
Padahal, Rasulullah SAW bersabda: "Harta tidak akan berkurang karena sedekah, tetapi justru bertambah dan diberkahi." (HR. Muslim).
Kedua, perbedaan antara harta hakiki dan harta titipan. Dalam perspektif Islam, harta yang kita genggam bukan milik kita sepenuhnya. Ada tiga jenis harta dalam pandangan Islam, pertama, harta milik pribadi, yaitu harta yang Allah titipkan kepada kita untuk dikelola dengan baik. Kedua, harta milik orang lain. Bagian dari harta kita yang merupakan hak orang miskin dan mustahik yang harus dikeluarkan melalui zakat, infak, dan sedekah. Ketiga, harta yang akan diwariskan. Harta yang kita tinggalkan setelah meninggal dan akan diwarisi oleh ahli waris.
Kesalahan banyak orang menganggap harta yang mereka miliki saat ini sebagai harta hakiki, padahal sejatinya harta yang sudah dikeluarkan untuk kebaikanlah yang akan menjadi tabungan abadi di akhirat.
Ketiga, harta adalah titipan Allah. Harta yang kita miliki sebenarnya bukan milik kita, tetapi hanya titipan dari Allah. Allah SWT berfirman: "Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya."
(QS. Al-Hadid: 7).
Kesadaran bahwa harta bisa diambil kapan saja. Sama seperti anak yang dapat pergi meninggalkan orang tuanya kapan saja, begitu pula dengan harta. Harta bisa berkurang atau hilang karena musibah, kecelakaan, atau kematian. Oleh karena itu, menggunakan harta di jalan yang benar lebih penting daripada menimbunnya.
Dalam Islam, ada prioritas penggunaan harta, yaitu menunaikan zakat, infak, dan sedekah sebagai bentuk kepedulian sosial; melunasi utang, karena utang yang tidak dibayar akan menjadi beban di akhirat; memenuhi kebutuhan pokok, seperti sandang, pangan, dan papan; serta menabung atau berinvestasi, tetapi tidak berlebihan.
Keberkahan dalam Rezeki
Salah satu prinsip penting dalam Meta Ekonomi Islam bahwa jumlah harta bukanlah yang utama, tetapi keberkahannya.
Contoh keberkahan dalam rezeki: seseorang berpenghasilan Rp1 juta per hari, tetapi ketika sampai di rumah, pengeluarannya selalu membengkak karena ada kebutuhan tak terduga seperti anak sakit, rumah bocor, atau kendaraan mogok. Akhirnya, uangnya habis tanpa tersisa.
Contoh lainya, seseorang berpenghasilan Rp500 ribu per hari, tetapi ia hidup sederhana dan hanya menghabiskan Rp200 ribu untuk kebutuhan sehari-hari. Sisanya bisa ditabung atau disedekahkan.
Kesimpulannya, keberkahan tidak diukur dari jumlah, tetapi dari bagaimana rezeki itu digunakan dan dampaknya dalam kehidupan.
Harta Bukan Tujuan Akhir
Islam mengajarkan, harta hanyalah sarana, bukan tujuan utama hidup. Dalam harta ada hak orang lain. Allah SWT berfirman: "Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan yang tidak mendapat bagian." (QS. Adz-Dzariyat: 19).
Orang yang memahami prinsip ini akan lebih mudah mengeluarkan zakat, infak, dan sedekah tanpa takut miskin.
Ilustrasi tentang cara memakai rezeki dapat dilihat dari orang yang belanja Rp350 ribu di pagi hari mungkin mendapatkan sayur segar, tetapi dengan harga lebih mahal. Atau, orang yang belanja Rp100 ribu di siang hari mungkin mendapatkan sayur yang sedikit layu, tetapi dengan harga lebih murah. Pada akhirnya, yang masuk ke perut tetaplah makanan yang sama.
Pelajaran dari ilustrasi ini adalah gunakan rezeki dengan cara yang bijak dan berkah, bukan sekadar mengejar kemewahan.
Sebagai kesimpulan, meta ekonomi Islam mengajarkan bahwa: Pertama, harta bukanlah tujuan utama dalam hidup, tetapi hanya titipan dari Allah. Kedua, mindset yang benar tentang harta akan membawa keberkahan. Ketiga, zakat, infak, dan sedekah bukan pengurang harta, tetapi justru penambah keberkahan. Keempat, gunakan harta dengan bijak sesuai dengan ajaran Islam.
(Dirangkum oleh Sayed M. Husen dan Darmawan Abidin dari ceramah shubuh di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Rabu, 26 Februari 2025).