
![]() |
Ustaz Prof. Dr. Fauzi Saleh, M.A Penceramah Masjid Raya Baiturrahman |
Ketika Rasulullah SAW hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq RA menempuh perjalanan yang penuh tantangan dan bahaya. Setelah melalui perjalanan panjang, Rasulullah SAW tiba di sebuah tempat bernama Quba pada hari Senin.
Di Quba, Rasulullah SAW tinggal selama beberapa hari di rumah Khulsum bin Hidm, seorang sahabat Anshar yang sangat dermawan. Di tempat ini, beliau dan para sahabat mendapatkan sambutan hangat dari penduduk setempat.
Saat berada di Quba, cuaca sangat panas. Abu Bakar RA berdiri dan menyampaikan salam kepada penduduk. Karena posisi Abu Bakar RA yang lebih dulu berbicara, penduduk mengira bahwa dialah Rasulullah SAW. Namun, ketika Abu Bakar RA mengambil sorbannya dan memayungi Rasulullah SAW, barulah mereka menyadari bahwa Rasulullah adalah orang yang selama ini mereka nantikan.
Peristiwa ini menunjukkan betapa besarnya penghormatan para sahabat kepada Rasulullah SAW dan juga betapa tingginya antusiasme penduduk Quba untuk bertemu dengan beliau.
Selama berada di Quba, Rasulullah SAW mendirikan masjid pertama dalam Islam, yaitu Masjid Quba. Masjid ini menjadi simbol penting dalam sejarah Islam, karena dibangun atas dasar ketakwaan kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 108: "Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih pantas untuk engkau beribadah di dalamnya..."
Masjid Quba menjadi tempat ibadah pertama yang Rasulullah SAW bangun, yang menunjukkan bahwa masjid adalah pusat utama dalam kehidupan umat Islam.
Setelah beberapa hari di Quba, Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan ke Yatsrib (Madinah). Di sana, kaum Anshar sudah menanti dengan penuh kerinduan meskipun mereka belum pernah melihat wajah beliau secara langsung.
Penduduk Madinah sangat antusias menyambut kedatangan Rasulullah SAW. Mereka berdesak-desakan di sepanjang jalan, bahkan ada yang menaiki pohon hanya untuk bisa melihat sosok Nabi yang mereka cintai.
Setibanya di Madinah, banyak penduduk yang ingin menjamu Rasulullah SAW dan berharap beliau tinggal di rumah mereka. Rasulullah SAW bersabda: "Di mana pun unta saya berhenti, maka di situlah saya akan tinggal."
Unta Rasulullah terus berjalan hingga akhirnya berhenti di depan rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Maka, Rasulullah SAW tinggal di rumah Abu Ayyub selama beberapa waktu, sebelum kemudian membangun rumahnya sendiri di samping Masjid Nabawi.
Setelah menetap di Madinah, Rasulullah SAW mencari tanah untuk membangun masjid. Kebetulan, ada sebidang tanah milik dua anak yatim, Suhail dan Sahl. Mereka dengan sukarela ingin menghibahkan tanah tersebut, tetapi Rasulullah SAW menolak untuk menerimanya sebagai hibah dan lebih memilih membelinya.
Di atas tanah ini, Rasulullah SAW membangun Masjid Nabawi, yang kemudian menjadi pusat kegiatan ibadah, pendidikan, dan pemerintahan Islam di Madinah.
Pada masa awal pembangunannya, Masjid Nabawi dibangun dengan bahan-bahan sederhana: yiang-tiangnya dibuat dari batang pohon kurma; atapnya dari pelepah dan daun kurma; lantainya dibiarkan berupa tanah biasa: serta Rasulullah SAW sendiri turut serta dalam proses pembangunan ini bersama para sahabat.
Masjid Nabawi bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pemerintahan, tempat musyawarah, tempat pendidikan, dan pusat aktivitas sosial bagi kaum Muslimin.
Rasulullah SAW menjelaskan keutamaan shalat di tiga masjid utama dalam Islam: shalat di Masjidil Haram (Makkah) memiliki pahala setara dengan 10.000 kali shalat di masjid lain; shalat di Masjid Nabawi (Madinah) memiliki pahala setara dengan 1.000 kali shalat di masjid lain; dan shalat di Masjidil Aqsa (Palestina) memiliki pahala setara dengan 500 kali shalat di masjid lain.
Hadis ini menunjukkan betapa istimewanya Masjid Nabawi sebagai tempat ibadah dan betapa besar pahala yang diperoleh bagi orang yang beribadah di dalamnya.
Dari kisah ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting, pertama, masjid sebagai pusat peradaban Islam. Sejak awal, Rasulullah SAW menanamkan bahwa masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi juga pusat pendidikan, sosial, dan pemerintahan.
Kedua, pentingnya peran masyarakat dalam membangun masjid. Rasulullah SAW dan para sahabat bersama-sama membangun Masjid Nabawi, menunjukkan bahwa membangun dan memakmurkan masjid adalah tanggung jawab bersama.
Ketiga, keutamaan mendirikan dan memakmurkan masjid. Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Bukhari & Muslim).
Keempat, keikhlasan dalam beribadah. Rasulullah SAW tidak menerima tanah sebagai hibah, tetapi membelinya sebagai bentuk keikhlasan dan tanggung jawab.
(Dirangkum oleh Darmawan Abidin dan Sayed M. Husen dari ceramah Shubuh di Masjid Raya Baiturrahman, Selasa, 11 Februari 2025)