
Ada baiknya sejenak kita tundukkan hati dan pikiran untuk merenungkan keagungan lailatul qadar. Lailatul qadar adalah peristiwa luar biasa dan penuh misteri. Banyak kejadian maha dahsyat di malam itu. Ia adalah malam kemuliaan, malam yang agung, malam yang lebih baik dari 1.000 bulan, malam diturunkannya Al-Qur’an, malam di mana Malaikat turun ke bumi, serta malam di mana terwujud kesejahteraan dan kedamaian. Demikianlah gambaran malam lailatul qadar yang dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Qadr ayat 1-5. Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.
Momen lailatul qadar menjadi istimewa bagi umat Islam pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Namun, tidak ada seorang pun yang mengetahui terkait datangnya malam lailatul qadar. Malam yang dapat membawa seorang hamba kepada derajat ketakwaan yang hakiki. Dalam hal ini, hendaknya manusia tidak hanya menunggu malam kemuliaan itu tiba, tetapi mengisi sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan penuh kekhusyuan dan kebaikan agar mendapatkan lailatul qadar.
Menanti malam yang penuh berkah, kemuliaan, dan kesucian tersebut menuntut seorang hamba juga dalam keadaan baik dan suci hatinya setelah menempa dua puluh hari pertama bulan Ramadhan. Pada hitungan sepuluh malam terakhir bulan ramadhan tersebut, Nabi Muhammad SAW menyambut malam mulia itu dengan mengajarkan kepada umatnya agar melakukan i’tikaf.
Selain lailatul qadar adalah malam kemuliaan akan tetapi malam tersebut juga membawa misi malam perdamaian (salam), dimana ayat ke lima dari surat al-Qadr tersebut diakhiri dengan kata salamun yang berarti keselamatan, perdamaian dan ketentraman.
Pesan perdamaian ini menjadi isyarat bahwa untuk mendapatkan malam lailatul qadar meskipun bersifat privasi akan tetapi dampak dari kemuliaan malam tersebut harus bisa dirasakan oleh banyak orang yaitu menciptakan perdamaian dan keselamatan.
Al-Sa’dy dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata salam berarti keselamatan dari setiap kejahatan dan mara bahaya yang demikian itu dikarenakan melimpahnya kebaikan dan kedamaian. Keselamatan dan perdamaian yang dimaksud pada penutup surat al-Qadr tersebut tentu tidak saja hanya berlaku pada saat malam lailatul qadar, lebih dari itu pesan perdamaian tersebut harusnya mengikat pada setiap diri seorang muslim untuk selalu menebar perdaiaman dan keselamatan bagi orang-orang disekitarnya.
Quraish Shihab dalam Tafsir Al Misbah menyebutkan bahwa malam lailatul qadar penuh kesejahteraan hingga fajar (QS Al-Qadr: 5). Quraish Shihab memaknai kesejahteraan dengan kedamaian. Artinya, pada malam kemuliaan tersebut, manusia hendaknya damai dengan diri, juga damai dengan orang lain. Damai itu ada damai aktif dan ada damai pasif. Misal ketika manusia naik bus, banyak orang di bus, lalu hanya duduk diam, tidak menyapa samping kiri dan samping kanannya. Hal itu termasuk damai, tetapi damai pasif.
Lain halnya dengan damai aktif yaitu ketika saling menyapa atau memberi sesuatu kepada orang lain dengan tujuan yang baik. Hal ini juga berlaku bahwa ketika manusia tidak bisa memuji orang lain, tidak perlu memakinya. Kalau tidak bisa memberi sesuatu kepada orang lain, jangan lalu mengambil haknya. Kalau tidak bisa membantunya, jangan menjerumuskannya. Ini prinsip kedamaian yang dapat mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin bagi kehidupan manusia. Di saat itulah manusia mendapat malam kemuliaan, yaitu malam lailatul qadar.
Quraish Shihab juga menguraikan ‘kedamaian’ menjadi kata kunci dan prasyarat umat muslim untuk mencapai keberkahan malam lailat al-Qadr. Ketenangan, keselamatan, kedamaian akan diperoleh bagi mereka yang mampu berdamai dengan diri (takdirnya) sendiri, juga mampu berdamai dengan orang lain. Dirinya takut memperlakukan orang lain dengan semena-mena karena ia sadar bahwa setiap perbuatan selalu ada balasan. Kata Salamun yang juga menjadi derviasi kata ‘Islam’ (damai) dan pemeluknya disebut dengan ‘Muslim’ semoga mampu diimplementasikan tak hanya di 10 hari terakhir penghujung bulan Ramadan namun juga dalam keseharian. Damai dalam diri, damai kepada sesama, damai kepada alam semesta.
Malam lailatul qadar adalah malam turunnya malaikat untuk menebar kedamaian dan mendoakan manusia agar berlimpah ruah karunia di atas bumi Allah ini. Maka tugas manusia selanjutnya berbagi atas kelimpahan karunia tersebut kepada sesame dan menebarkan rasa damai diantara sesamanya sebagai ciri dia mendapatkan keberkahan di malam al-Qadr.