
Ringkasan Ceramah Nuzulul Quran - oleh Ustadz Surianto Sudirman
Selesai pelaksanaan shalat Isya berjamaah dan seremonial peresmian program gubernur Aceh yang berlangsung khitmat, setelah itu dilanjutkan dengan ceramah singkat peringatan malam nuzulul quran.
Nuzulul quran memiliki makna peristiwa turunnya Al Quran dari tempat yang tinggi (lauful mahfuz) ke bumi. Tahun ini, nuzulul quran dimulai sejak 16 Maret 2025 ba'da Maghrib dan berlanjut hingga 17 Maret 2025 (17 Ramadhan). Ustadz Surianto menjelaskan bahwa ada tiga proses Nuzulul Quran.
Turun yang pertama sekali di lauhul mahfuz, sesuai dengan firman Allah swt., bal huwa qur'anum majid, fii lauhim mahfuz. Di lauhul mahfuz Al Quran asli seperti ini disaksikan langsung pertama sekali oleh malaikat Jibril. Dalam bentuk yang tersusun sebagaimana kita baca. Dan lauhul mahfuz adalah tempat dimana segala sesuatu berada di dalamnya termasuk Al Quran pertama sekali diturunkan di sana," jelas Ustadz Surianto.
Ustadz Surianto yang juga merupakan Mudir Dayah Terpadu Nurul Ikhwah, menambahkan bahwa proses yang kedua adalah turunnya Al Quran ke baitul izzah (langit dunia).
Berdasarkan dalil, "syahru ramadhanal ladzi unzila fiihil Quranu hudallinnaasi wabayyinaati minal hudaa", ayat ini kata para ulama merupakan proses diturunkan Al Quran dari lauhul mahfuz ke langit dunia sekaligus. Dari lauhul mahfuz Al Quran diturunkan ke baitul izzah 30 juz.
Kemudian, proses yang ketiga yaitu Allah turunkan Al Quran dari baitul izzah kepada Nabi Muhammad saw., secara berangsur-angsur yang dibawakan oleh malaikat Jibril. Sesuai dalil surah Al-Isra' ayat 106 yaitu "... wa nazzalnahu tanzila".
erita Umum Pendidikan Tekno Opini Tokoh Jurnalisme Warga Budaya & Agama Sport Redaksi Reugam Nasional Daerah News Buku Wisata Bisnis Anak & Perempuan Remaja Video Photo
Budaya & Agama
Ringkasan Ceramah Nuzulul Quran "Relevansi Al-Qur’an dalam Menjawab Tantangan Zaman Milenial" oleh Ustadz Surianto Sudirman
Ulfah Munirah
Senin, 17 Maret 2025 | 07:30 WIB
Flayer Peringatan Malam Nuzulul Quran di Masjid Raya Baiturrahman
Flayer Peringatan Malam Nuzulul Quran di Masjid Raya Baiturrahman
SUARA NANGGROE - Peringatan malam nuzulul quran (16/03/2025) ramadhan kali ini di Masjid Raya Baiturrahman menghadirkan penceramah daerah yaitu Tgk. H. Surianto Sudirman, Lc., MA. Adapun tema yang dikupas adalah Relevansi Al-Qur’an dalam Menjawab Tantangan Zaman Milenial.
Selesai pelaksanaan shalat Isya berjamaah dan seremonial peresmian program gubernur Aceh yang berlangsung khitmat, setelah itu dilanjutkan dengan ceramah singkat peringatan malam nuzulul quran.
Nuzulul quran memiliki makna peristiwa turunnya Al Quran dari tempat yang tinggi (lauful mahfuz) ke bumi. Tahun ini, nuzulul quran dimulai sejak 16 Maret 2025 ba'da Maghrib dan berlanjut hingga 17 Maret 2025 (17 Ramadhan). Ustadz Surianto menjelaskan bahwa ada tiga proses Nuzulul Quran.
recommended by
Slimming Products
Berat Saya 90 Kg dan Sekarang 58! Rahasianya Pembersihan Tubuh
Pelajari Lebih
"Turun yang pertama sekali di lauhul mahfuz, sesuai dengan firman Allah swt., bal huwa qur'anum majid, fii lauhim mahfuz. Di lauhul mahfuz Al Quran asli seperti ini disaksikan langsung pertama sekali oleh malaikat Jibril. Dalam bentuk yang tersusun sebagaimana kita baca. Dan lauhul mahfuz adalah tempat dimana segala sesuatu berada di dalamnya termasuk Al Quran pertama sekali diturunkan di sana," jelas Ustadz Surianto.
Ustadz Surianto yang juga merupakan Mudir Dayah Terpadu Nurul Ikhwah, menambahkan bahwa proses yang kedua adalah turunnya Al Quran ke baitul izzah (langit dunia).
Berdasarkan dalil, "syahru ramadhanal ladzi unzila fiihil Quranu hudallinnaasi wabayyinaati minal hudaa", ayat ini kata para ulama merupakan proses diturunkan Al Quran dari lauhul mahfuz ke langit dunia sekaligus. Dari lauhul mahfuz Al Quran diturunkan ke baitul izzah 30 juz.
Kemudian, proses yang ketiga yaitu Allah turunkan Al Quran dari baitul izzah kepada Nabi Muhammad saw., secara berangsur-angsur yang dibawakan oleh malaikat Jibril. Sesuai dalil surah Al-Isra' ayat 106 yaitu "... wa nazzalnahu tanzila".
Baca Juga:
Ramadhan dan Tantangan Zaman: Mengembalikan Makna di Era Digital
"Pertanyaan penting yang harus kita tanyakan pada diri kita, apakah setelah Allah menurunkan Al Quran kepada Nabi Muhammad saw dan sampai kepada kita saat ini sudahkah menyatu Al Quran itu turun ke dalam hati kita?" tegas Ustadz Surianto.
Mungkin kita sudah puluhan kali memperingati peristiwa Nuzulul Quran, namun Al Quran yang merupakan kitab suci yang tidak ada kitab yang dapat melampaui kesucian Al Quran, sudah seberapa dekat kita dengannya? Hal ini yang perlu menjadi perhatian kita bersama.
Kita bisa melihat bagaimana kebiasaan dan kedekatan para ulama untuk membersamai Al Quran. Imam Al-Aswad membaca Al Quran setiap bulan di bulan Ramadhan khatam setiap harinya dua kali.
Imam Syafii mampu mengkhatamkan Al Quran selama Ramadhan sebanyak 60 kali. Setelah kita memahami makna dari peristiwa Nuzulul Quran semoga kita mampu meningkatkan kedekatan kita dengan Al Quran.
Ada qudwah, teladan yang luar biasa dari kisah para ulama dalam interaksinya dengan Al Quran. Walau mungkin tidak mudah untuk kita ikuti namun mari kita berupaya minimal untuk bisa mengkhatamkan Al Quran satu kali selama Ramadhan ini.
وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرً
Artinya: Rasul (Nabi Muhammad) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini (sebagai) sesuatu yang diabaikan." (QS. Al-Furqan: 30)
Jangan sampai kita menjadi orang yang mengabaikan Al Quran seperti yang Allah firmankan. Jika Al Quran telah mampu kita hadirkan dalam hati atau sanubari kita, telah kita wujudkan dalam kehidupan kita secara pribadi. Maka yakinlah, dengan izin Allah, Al Quran tersebut akan bisa kita hadirkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Karena Al Quran diturunkan Allah untuk mejadi petunjuk (Al-Huda) dalam kita menjalani hidup. Petunjuk arah, lentera yang menerangi jalan-jalan kehidupan kita. Kita mudah-mudahan benar-benar bisa mengimplementasikan Al Quran dalam keseharian kita.
Kita ingin agar semua syariat dalam Al Quran bisa tegak dalam kita berbangsa dan bernegara. Baik itu syariat akidah, syariat akhlak ataupun syariat ibadah hadir dalam kehidupan kita khususnya di Nanggroe Aceh Darussalam ini.
Program yang baru saja di-launching oleh Muallim, Top Keude Bak Wate Sembahyang, nyan program yang rayeuk that."
Program Top Keude Bak Wate Sembahyang adalah program yang sangat bagus. Sebagai seorang pemimpin sudah semestinya berkewajiban membuat kebijakan yang bagus dan baik untuk masyarakatnya.
Dalam Al Quran, Allah berfirman, "(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." (QS. Al-Hajj: 41)
Jika kita ditakdirkan Allah menjadi seorang pemimpin maka tugas pertama adalah mendirikan shalat. Program Top Keude, adalah upaya pemerintah agar masyarakat bisa fokus menunaikan shalat lima waktu.
Kemudian, setelah itu seorang pemimpin juga memiliki tugas menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Lalu, setelah upaya-upaya itu dilakukan maka serahkan segala urusannya kepada Allah swt.
Kita berharap syariat islam ini, Al Quran ini benar-benar membumi di Nanggroe Aceh Darussalam. Mari kita saling mendoakan, panjatkan doa untuk sesama kita juga untuk pemimpin kita.
Semoga taufik dan hidayah Allah swt., selalu menyertai pemimpin kita dalam mengambil dan membuat kebijakan-kebijakan yang sesuai dengan Al Quran dan As Sunah.
"Semoga peringatan malam nuzulul quran ini benar-benar bisa kita hayati, resapi, dan renungkan. Agar Al Quran yang sudah diturunkan dari Allah ke lauhul mahfuz, dari lauhul mahfuz ke baitul izzah, dan dari baitul izzah ke hati Nabi Muhammad saw., yang tersampaikan kepada kita, semoga Al Quran tersebut bisa lahir dalam kehidupan kita pribadi dan berbangsa juga bernegara," harap Ustadz Surianto dalam akhir ceramah singkatnya.
Di pertengahan ramadhan ini mari kita tingkatkan ibadah dan kedekatan bersama Al Quran.
Sumber : Suara Nanggroe